nav-left cat-right
cat-right

Menjadi Guru Terbaik

Pekerjaan yang saya geluti menuntut perhitungan yang cukup tinggi, karena berkaitan dengan keamanan dan keselamatan. Guru. Ya, sebagai guru kepanduan yang berjibaku dengan dunia outbound, tali temali, ketinggian, tantangan, bahaya dan semacamnya. Meski beberapa kali saya sempat hampir celaka, tak cukup untuk membuat saya membenci dunia penuh tantangan tersebut.

Seperti biasa, sebelum pelajaran dimulai saya membuat instalasi outbound terlebih dahulu. Dan kali ini saya hendak mengajarkan rapling dari lantai 2. Pelajaran ini termasuk baru, karena baru kali ini saya kenalkan pada siswa. Guru sebelumnya belum pernah mengajarkannya.

Setelah menemukan tempat start yang cocok untuk rapling di lantai 2, segera saya ikatkan beberapa webbing sebagai tempat mengaitkan karnmantel. Dan seperti biasa pula, sebelum dipraktekkan ke siswa, saya mencoba terlebih dahulu tingkat keamanannya. Saya ambil 1 buah webbing dan mulai membuat ikatan di badan sebagai tali pengaman. Dilengkapi sebuah carabiner dan figur of eight (ongko wolu), saya segera mulai melilitkan karnmantel sedemikian rupa di figur of eight.

Cukup dag-dig-dug juga ketika hendak memulai, karena posisi start yang cukup sempit. Tapi kalau tidak dicoba, kan tidak tahu. Maka mulailah saya ambil ancang-ancang untuk turun. Saya turun secara perlahan. Namun baru saja meninggalkan tempat start, tiba-tiba carabiner yang saya pakai terlepas dari tali pengaman yang saya pakai. Rupanya saya lupa untuk menguncinya, dan terbuka ketika terbentur dengan pagar pembatas. Otomatis tak ada satu alatpun yang menahan beban berat badan saya.

Alhamdulillah, satu tangan saya masih berpegangan pada pagar pembatas sehingga tidak sampai meluncur ke bawah. Dengan susah payah, saya kembali memanjat ke tempat start. Nafas tersengal dan kaos seragam membasah oleh keringat begitu sampai.

Akhirnya pelajaran hari itu saya ganti dengan permainan yang lebih sederhana dan tentunya tanpa resiko. Namun peristiwa hari itu membuat saya untuk lebih berhati-hati. Dan hal tersebut saya sampaikan kepada para siswa, dan saya turunkan kepada para guru kepanduan yang bergabung berikutnya. Bahwa, perlu kecermatan dan kepastian keamanan dalam membuat instalasi outbound. Bahkan, saya pernah memboikot acara outbound dalam jambore yang diikuti SDIT se-Jawa Tengah, DIY dan Kalimantan. Karena tak ada pengaman yang memadai dalam acara outbound tersebut.

Kini, saya tidak saja berhasil membuat instalasi dari lantai 2, tapi juga pernah membuat intalasi dari lantai 3 yang saat itu baru saja dibangun. Bahkan instalasi-instalasi lain yang lebih menantang, lebih tinggi, dan lebih beresiko. Semua ada ilmunya, dan setiap peristiwa mengandung pelajaran.

Pengalaman adalah guru terbaik bagi manusia, yang mau berfikir dan mengambil pelajaran. Begitu banyak peristiwa yang mengalir dalam hidup ini, namun tak banyak yang bisa mengambilnya sebagai guru.

2 Responses to “Menjadi Guru Terbaik”

  1. guru pramuka pak ya? kok ada outbond.

    Bukan mas. Guru Pandu Sekolah Islam Terpadu, yah mirip2 lah sama pramuka.
    Beda visi dan misi aja. Yang ini ciri khas sekolah2 Islam Terpadu.

  2. woi, sebuah pekerjaan yang sarat tantangan dan risiko, pak. salut. pengalaman memang guru yang paling baik.

    bener pak. pernah pula sih ada teman yang jatuh waktu naik jaring pendarat, patah kedua pergelangan tangan. gara2nya gak sesuai standart. makanya saya musti hati2 dan super ekstra ketat.

Leave a Reply